KEUNIKAN BUDAYA TENGANAN YANG TERPENDAM
Saat ini Bali memang terkenal
sebagai tujuan wisata turis Indonesia atau pun dunia. Pesona kekayaan alam bali
dan seni kebudayaanya selalu memikat semua orang. Namun Pulau Dewata ini tidak
hanya indah karena pantai, hotel atau mall yang menjual oleh oleh yang hanya
ada di Bali saja. Di sisi timur Bali terdapat sebuah desa adat yang sangat
menarik yaitu Desa Adat Tenganan yang masih asli dengan budaya masyarakat Bali
Aga.
Teori fungsionalisme Mallinowski ini
sedikit menggambarkan tentang keunikan budaya
tenganan yang masih terpendam dalam masyarakat tenganan sendiri. Menurut
Mallinowski pada dasarnya manusia hidup karena adanya kebutuhan-kebutuhan
individu di dalamnya, kebutuhan tersebut yang menggeserkan elemen-elemen dalam
masyarakat.
Kebudayaan dalam pandangan
fungsionalisme Mallinowski, kebudayaan adalah alat yang di pakai manusia untuk
memperoleh kemudahan dalam menghadapi masalah kehidupan. Kebudayaan sebagai
sistem objek, aktifitas dan sikap adalah sarana mencapai tujuan hidup manusia.
Desa Adat Tenganan Bali secara geografis
terletak di antara bukit di barat dan timur bagian desa ini. Desa Tenganan ini terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten
Karangasem. Tepatnya terletak di bagian timur pulau Bali
yaitu sebelah barat Kabupaten Karangasem, dengan jarak 15 kilometer dari pusat
Kota Amlapura dan berada sekitar 65 kilometer dari Kota Denpasar.
Berbagai macam perbedaan budaya dan tradisi
di Desa Tenganan dengan masyarakat Bali pada umumnya justru yang membuat desa
ini menjadi unik. Tapi ada satu hal yang selalu bertanya tanya di fikiran saya,
ketika saya berkunjung pada tanggal 3 juni 2013 kemarin untuk Kajian lapangan
masyarakat dan kebudayaan, bersama rombongan keluarga Sosiologi & Antropologi
Universitas Negeri Semarang. Yaitu mengapa keunikan desa tenganan ini justru
masih asing di telinga masyarakat indonesia sendiri? Bahkan jarang sekali orang
yang mengetahui tentang desa tersebut.
Desa Tenganan adalah salah satu desa
yang unik di Bali karena merupakan sebuah desa yang hingga saat ini masih
mempertahankan tradisinya aslinya, desa kecil yang terdiri dari tiga banjar
(kelompok masyarakat) yaitu Banjar Kauh, Banjar Tengah dan Banjar Pande. Desa Tenganan terdiri
dari 3 garis besar yaitu, komplek pemukiman penduduk, persawahan dan perkebunan
desa yang memiliki luas 917.20 hektar dan0,85% daerahnya dijadikan area
pemukiman dengan jumlah penduduk 688 jiwa.
Desa
Tenganan memiliki 2 kepemimpinan. Yaitu pemerintahan dinas (kepala desa) dan
kepala adat. Kepala desa untuk mengatur kemajuan desa tenganan di bidang
kedinasan, jabatan ini biasanya di jabat oleh warga asli tenganan yang sudah
berpengalaman di bidang pemerintahan atau yang telah menempuh pendidikan tinggi
seperti Bapak I Putu Swardana yang saat ini menjabat sebagai kepala desa
tenganan. Sedangkan untuk kepala adat untuk keperluan adat seperti upacara adat
yang di lakukan oleh masyarakat tenganan. Jabatan tersebut biasanya di jabat
oleh sesepuh asli tenganan yang telah
melewati berbagai tahapan untuk menjadi kepala aadat.
Banyak
perbedaan yang membuat desa ini memiliki keunikan tersendiri di banding dengan
masyarakat Bali pada umumnya. Yang membedakan Desa Adat Tenganan dengan
masyarakat Bali lainya adalah di Desa Tenganan tidak mengenal kasta. Orang-orang
dataran rendah Tenganan telah mempertahankan budaya dan cara hidup mereka
melalui keyakinan mereka keturunan dewa. Agama yang di anut oleh masyarakat asli
Tenganan adalah agama Hindu Indra. Di Desa Tenganan juga tidak mengenal
pembakaran mayat (ngaben) seperti di masyarakat Bali pada umumnya. Jika ada
orang tenganan yang meninggal, orang tersebut di kubur di tempat pemakaman yang
ada di desa tersebut. Namun berbeda dengan agama islam yang dikubur dengan
menggunakan kain kafan, di Tenganan mayat tersebut di kubur dengan kondisi
telanjang. Masyarakat tersebut percaya bahwa manusia lahir telanjang dan mati
pun telanjang pula.
Desa Tenganan memiliki peraturan
desa adat atau masyarakat tenganan menyebutnya dengan Awig-awig yang memiliki
peranan penting terhadap masyarakat desa tersebut. Salah satu awig-awig yang di
pertahankan oleh masyarakat tenganan adalah tidak boleh menjual atau pun
menggadaikan tanah yang ada di wilayah desa adat ini. Karena yang memiliki dan
menempati desa adat ini hanya masyarakat asli tenganan saja. Desa ini tidak
menerima pendatang walawpun untuk menginap semalam saja. Dan jika ada
pengunjung yang ingin menginap di desa ini tidak diperbolehkan karena sudah ada
aturan sejak dahulu.
Kehidupan masyarakat Tenganan
bersifat patrilineal, yaitu seorang perempuan/istri mengikuti keluarga suami
setelah pernikahan dan suami menjadi kepala keluarga yang berperan sebagai
wakil keluarga untuk urusan adat dan pemerintahan desa secara adat. Di desa
ini, setiap keluarga memiliki hak untuk menempati satu plot rumah yang telah disediakan
sesuai aturan adat, dengan syarat pasangan suami istri tersebut sama sama asli
orang tenganan. Dan setiap pasangan yang baru menikah (kurang lebihnya selama 3
bulan setelah pernikahan) harus meninggalkan rumah orang tuanya, lalu pasangan
tersebut berhak menempati rumah yang telah disediakan sesuai awig-awig desa
tersebut. Dan jika ada seorang warga tenganan yang menikah dengan orang yang
bukan warga asli tenganan maka pasangan tersebut tidak diperbolehkan untuk
tinggal (menetap) di desa tersebut. Melainkan meraka harus keluar dari wilayah
tersebut dan memiliki tempat tinggal diluar wilayah tenganan, tapi orang
tersebut tetap diakui sebagai warga tenganan.
Walaupun desa tenganan ini masih
mempertahankan dan melestarikan tradisinya, namun di bidang pendidikan desa ini
masih memperbolehkan anak-anak yang hendak mencari ilmu untuk keluar dari desa
tersebut. Karena di desa tenganan ini hanya tersedia TK dan SD saja. Untuk
menempuh pendidikan yang lebih tinggi anak-anak diperbolehkan keluar dari
wilayah tenganan, namun jika ada upacara adat anak-anak yang sekolah di luar
desa tenganan harus pulang dan mengikuti upacara adat tersebut. Bahkan sudah
banyak anak tenganan yang telah menempuh pendidikan sampai sarjana. Namun
setelah ia lulus dari pendidikanya ia pun pulang lagi ke desa tenganan ini.
Desa ini
memiliki beberapa tradisi unik yang hingga sekarang masih dipertahankan dan
dijalankan. tradisi tersebut antara lain tradisi perang pandan yang
dilaksanakan setiap setahun sekali, bolong
koping bagi kaum laki-laki yang berfungsi untuk pelangkap ketika upacara
adat berlangsung dengan telinga yang di tindik diberi lintngan daun pisang, dan
jika ada laki-laki yang tidak melakukan bolong koping maka orang tersebut tidak
diperbolehkan mengikuti upacara adat. Serta berbagai tradisi lainya yang masih
dilestarikan sampai saat ini. Bolong koping sendiri dilakukan ketika laki-laki
tersebut masih bayi, sekitar berumur 3 minggu. Bolong koping ini dilakukan oleh
orang yang sudah terbiasa menindik telinga dengan mmenggunakan buah jaka
(bluluk). Proses penindikan ini biasanya memakan waktu 3-7 hari.
gambar : a. alat yang digunakan warga desa tenganan untuk melakukan tradisi bolong koping
b. Seorang laki-laki asli
warga tenganan yang melakukan bolong koping
Seiring berjalanya waktu, Desa
Tenganan yang memiliki banyak keunikan ini mulai banyak dikenal dan di kunjungi
oleh wisatawan asing. Wisatawan yang tertarik dengan keunikan desa ini
mengunjungi dan berwisata di desa adat ini. Hal tersebut yang mendorong para
warga Desa Tenganan ini membuat berbagai kerajian untuk dijual di Tenganan.
Para warga menjajakan daganganya di halaman rumah bahkan ada yang di dalam
rumah. Kerajinan yang terdapat di desa tersebut antara lain Ata Keranjang Yang
terbuat dari akar rotan. Dan yang paling terkenal adalah Kain Gringsing.
gambar : kerajinan yang dibuat oleh masyarakat
setempat, seperti ata keranjang, kain gringsing, souvenir semacam telur yang di
lukis.
Desa tenganan yang mempunyai luas
area sekitar 1.500 hektar, ketika tempat tempat wisata yang lain di Bali
berkembang pesat seperti Pantai Kuta, Pantai Dreamland dan lain sebagainya yang
sangat meriah dengan kehadiran Hotel, Café, dan kehidupan malamnya. Namun Desa
Tenganan tetap saja berdiri kokoh, tidak peduli dengan perubahan jaman dengan
tetap bertahan dengan tiga balai desanya yang kusam dan rumah adat yang
berderet yang sama persis satu dengan lainnya. Dan tidak hanya itu di desa ini
keturunan juga dipertahankan dengan perkawinan antar sesama warga desa. Oleh
karena itu Desa Tenganan tetap tradisional dan eksotik, walaupun Masyarakat
Tenganan menerima masukan dari dunia luar tetapi tetap saja tidak akan cepat
berubah, karena peraturan desa adat /awig-awig mempunyai peranan yang sangat
penting terhadap masyarakat Desa Tenganan.
Keindahan pemandangan dan keunikan
Desa Adat ini justru lebih menarik dari pada pemandangan pantai yang sudah
biasa di kunjungi. Di desa tersebut masyarakatnya masih kental dengan adat
tradisi kuno dari zaman leluhur, terutama untuk para wisatawan yang senang
menjelajah dan tertarik dengan wisata seni, budaya dan sejarah.
Sebaiknya masyarakat tenganan
sendiri mempromosikan keunikan yang terpendam dalam masyarakat tenganan
sendiri. Misalnya saja kegiatan Study Tour yang dilakukan oleh siswa SMA yang
berkunjung ke Bali, sebaiknya jangan melulu datang ke pantai atau wisata yang
memang sudah terkenal di Bali saja. Cobalah mengganti salah satu agenda wisata
study tour dengan berkunjung ke desa adat seperti Desa Adat Tenganan di
Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem ini. Di sana siswa SMA bisa berwisata
sambil belajar mengetahui berbagai keragaman budaya yang ada di Bali Aga ini.
Karena desa tersebut memang sangat unik dan menarik menjadi tujuan wisata seni
dan budaya.
Sebenarnya daya tarik pengunjung
desa adat ini sangat kuat, terutama pada saat bulan dimana desa tersebut
mengadakan tradisi perang pandan yang hanya dilaksanakan setahun sekali ini. Suatu
hal yang sangat menarik dan hanya bisa dijumpai di desa tenganan iini. Di
tambah suasana desa yang masih alami, dengan arsitektur Bali serta bangunan
rumah penduduk yang masih tradisional. Hal tersebut yang membuat daya tarik
desa yang menjadi keunikan tersendiri.
Kunikan dari Desa Tenganan yang lain
adalah setiap pengunjung yang datang ke desa tenganan langsung melihat di
setiap sudut rumah penduduk terdapat
barang dagangan yang telah tertata
rapi untuk dijual. Pengunjung bisa berjalan jalan mengelilingi desa
tenganan sambil melihat barang dagangan yang ada di depan rumah penduduk.
Sebelumnya saya juga tidak mengerti
tentang keadaan Desa Tenganan ini. Namun sebelum saya berangkat mengunjungi
desa tersebut saya mencoba mencari tahu tentang desa tersebut. Dan setelah saya
berkunjung ke Desa Adat tersebut saya menjadi lebih tahu dan mengerti dengan
berbagai keunikan yang ada di desa tersebut. Dan semoga ilmu yang saya dapatkan
di Desa Tenganan bermanfaat khususnya untuk diri saya sendiri.
Menurut Malllinowski Tiap unsur
kebudayaan pada hakekatnya merupakan manifestasi manusia dalam usaha memenuhi
kebutuhan hidupnya. Begitu pula pada masyarakat yang ada di desa tenganan,
dengan keunikan yang dimiliki oleh masyarakat tenganan sendiri dengan waktu
yang cepat atau pun lambat desa tenganan akan menjadi terkenal seperti wisata
yang sudah terkenal di bali karena di tenganan memiliki keunikan yang berbeda
dengan masyarakat bali pada umumnya.
Dokumentasi ketika di desa adat tenganan bali aga :)
itu foto lokasi observasi KKL 1,, Pend.SosAnt'12 UNNES :)
Semoga bermanfaat :')
Dokumentasi ketika di desa adat tenganan bali aga :)
itu foto lokasi observasi KKL 1,, Pend.SosAnt'12 UNNES :)
Semoga bermanfaat :')


Tidak ada komentar:
Posting Komentar