Selasa, 22 Oktober 2013

KEUNIKAN BUDAYA TENGANAN YANG TERPENDAM



KEUNIKAN BUDAYA TENGANAN YANG TERPENDAM
Saat ini Bali memang terkenal sebagai tujuan wisata turis Indonesia atau pun dunia. Pesona kekayaan alam bali dan seni kebudayaanya selalu memikat semua orang. Namun Pulau Dewata ini tidak hanya indah karena pantai, hotel atau mall yang menjual oleh oleh yang hanya ada di Bali saja. Di sisi timur Bali terdapat sebuah desa adat yang sangat menarik yaitu Desa Adat Tenganan yang masih asli dengan budaya masyarakat Bali Aga.
Teori fungsionalisme Mallinowski ini sedikit menggambarkan tentang keunikan budaya  tenganan yang masih terpendam dalam masyarakat tenganan sendiri. Menurut Mallinowski pada dasarnya manusia hidup karena adanya kebutuhan-kebutuhan individu di dalamnya, kebutuhan tersebut yang menggeserkan elemen-elemen dalam masyarakat.
Kebudayaan dalam pandangan fungsionalisme Mallinowski, kebudayaan adalah alat yang di pakai manusia untuk memperoleh kemudahan dalam menghadapi masalah kehidupan. Kebudayaan sebagai sistem objek, aktifitas dan sikap adalah sarana mencapai tujuan hidup manusia.
Desa Adat Tenganan Bali secara geografis terletak di antara bukit di barat dan timur bagian desa ini. Desa Tenganan  ini terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Tepatnya terletak di bagian timur pulau Bali yaitu sebelah barat Kabupaten Karangasem, dengan jarak 15 kilometer dari pusat Kota Amlapura dan berada sekitar 65 kilometer dari Kota Denpasar.
Berbagai macam perbedaan budaya dan tradisi di Desa Tenganan dengan masyarakat Bali pada umumnya justru yang membuat desa ini menjadi unik. Tapi ada satu hal yang selalu bertanya tanya di fikiran saya, ketika saya berkunjung pada tanggal 3 juni 2013 kemarin untuk Kajian lapangan masyarakat dan kebudayaan, bersama rombongan keluarga Sosiologi & Antropologi Universitas Negeri Semarang. Yaitu mengapa keunikan desa tenganan ini justru masih asing di telinga masyarakat indonesia sendiri? Bahkan jarang sekali orang yang mengetahui tentang desa tersebut.
Desa Tenganan adalah salah satu desa yang unik di Bali karena merupakan sebuah desa yang hingga saat ini masih mempertahankan tradisinya aslinya, desa kecil yang terdiri dari tiga banjar (kelompok masyarakat) yaitu Banjar Kauh, Banjar Tengah dan Banjar Pande. Desa Tenganan terdiri dari 3 garis besar yaitu, komplek pemukiman penduduk, persawahan dan perkebunan desa yang memiliki luas 917.20 hektar dan0,85% daerahnya dijadikan area pemukiman dengan jumlah penduduk 688 jiwa.

 
  









gambar : Kantor Kecamatan Manggis, Desa Tenganan Pegringsingan
Desa Tenganan memiliki 2 kepemimpinan. Yaitu pemerintahan dinas (kepala desa) dan kepala adat. Kepala desa untuk mengatur kemajuan desa tenganan di bidang kedinasan, jabatan ini biasanya di jabat oleh warga asli tenganan yang sudah berpengalaman di bidang pemerintahan atau yang telah menempuh pendidikan tinggi seperti Bapak I Putu Swardana yang saat ini menjabat sebagai kepala desa tenganan. Sedangkan untuk kepala adat untuk keperluan adat seperti upacara adat yang di lakukan oleh masyarakat tenganan. Jabatan tersebut biasanya di jabat oleh sesepuh asli  tenganan yang telah melewati berbagai tahapan untuk menjadi kepala aadat.
Banyak perbedaan yang membuat desa ini memiliki keunikan tersendiri di banding dengan masyarakat Bali pada umumnya. Yang membedakan Desa Adat Tenganan dengan masyarakat Bali lainya adalah di Desa Tenganan tidak mengenal kasta. Orang-orang dataran rendah Tenganan telah mempertahankan budaya dan cara hidup mereka melalui keyakinan mereka keturunan dewa.  Agama yang di anut oleh masyarakat asli Tenganan adalah agama Hindu Indra. Di Desa Tenganan juga tidak mengenal pembakaran mayat (ngaben) seperti di masyarakat Bali pada umumnya. Jika ada orang tenganan yang meninggal, orang tersebut di kubur di tempat pemakaman yang ada di desa tersebut. Namun berbeda dengan agama islam yang dikubur dengan menggunakan kain kafan, di Tenganan mayat tersebut di kubur dengan kondisi telanjang. Masyarakat tersebut percaya bahwa manusia lahir telanjang dan mati pun telanjang pula.
Desa Tenganan memiliki peraturan desa adat atau masyarakat tenganan menyebutnya dengan Awig-awig yang memiliki peranan penting terhadap masyarakat desa tersebut. Salah satu awig-awig yang di pertahankan oleh masyarakat tenganan adalah tidak boleh menjual atau pun menggadaikan tanah yang ada di wilayah desa adat ini. Karena yang memiliki dan menempati desa adat ini hanya masyarakat asli tenganan saja. Desa ini tidak menerima pendatang walawpun untuk menginap semalam saja. Dan jika ada pengunjung yang ingin menginap di desa ini tidak diperbolehkan karena sudah ada aturan sejak dahulu.
Kehidupan masyarakat Tenganan bersifat patrilineal, yaitu seorang perempuan/istri mengikuti keluarga suami setelah pernikahan dan suami menjadi kepala keluarga yang berperan sebagai wakil keluarga untuk urusan adat dan pemerintahan desa secara adat. Di desa ini, setiap keluarga memiliki hak untuk menempati satu plot rumah yang telah disediakan sesuai aturan adat, dengan syarat pasangan suami istri tersebut sama sama asli orang tenganan. Dan setiap pasangan yang baru menikah (kurang lebihnya selama 3 bulan setelah pernikahan) harus meninggalkan rumah orang tuanya, lalu pasangan tersebut berhak menempati rumah yang telah disediakan sesuai awig-awig desa tersebut. Dan jika ada seorang warga tenganan yang menikah dengan orang yang bukan warga asli tenganan maka pasangan tersebut tidak diperbolehkan untuk tinggal (menetap) di desa tersebut. Melainkan meraka harus keluar dari wilayah tersebut dan memiliki tempat tinggal diluar wilayah tenganan, tapi orang tersebut tetap diakui sebagai warga tenganan.
Walaupun desa tenganan ini masih mempertahankan dan melestarikan tradisinya, namun di bidang pendidikan desa ini masih memperbolehkan anak-anak yang hendak mencari ilmu untuk keluar dari desa tersebut. Karena di desa tenganan ini hanya tersedia TK dan SD saja. Untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi anak-anak diperbolehkan keluar dari wilayah tenganan, namun jika ada upacara adat anak-anak yang sekolah di luar desa tenganan harus pulang dan mengikuti upacara adat tersebut. Bahkan sudah banyak anak tenganan yang telah menempuh pendidikan sampai sarjana. Namun setelah ia lulus dari pendidikanya ia pun pulang lagi ke desa tenganan ini.
Desa ini memiliki beberapa tradisi unik yang hingga sekarang masih dipertahankan dan dijalankan. tradisi tersebut antara lain tradisi perang pandan yang dilaksanakan setiap setahun sekali, bolong koping bagi kaum laki-laki yang berfungsi untuk pelangkap ketika upacara adat berlangsung dengan telinga yang di tindik diberi lintngan daun pisang, dan jika ada laki-laki yang tidak melakukan bolong koping maka orang tersebut tidak diperbolehkan mengikuti upacara adat. Serta berbagai tradisi lainya yang masih dilestarikan sampai saat ini. Bolong koping sendiri dilakukan ketika laki-laki tersebut masih bayi, sekitar berumur 3 minggu. Bolong koping ini dilakukan oleh orang yang sudah terbiasa menindik telinga dengan mmenggunakan buah jaka (bluluk). Proses penindikan ini biasanya memakan waktu 3-7 hari. 


 
gambar : a. alat yang digunakan warga desa tenganan untuk melakukan tradisi bolong koping
b. Seorang laki-laki asli warga tenganan yang melakukan bolong koping
Seiring berjalanya waktu, Desa Tenganan yang memiliki banyak keunikan ini mulai banyak dikenal dan di kunjungi oleh wisatawan asing. Wisatawan yang tertarik dengan keunikan desa ini mengunjungi dan berwisata di desa adat ini. Hal tersebut yang mendorong para warga Desa Tenganan ini membuat berbagai kerajian untuk dijual di Tenganan. Para warga menjajakan daganganya di halaman rumah bahkan ada yang di dalam rumah. Kerajinan yang terdapat di desa tersebut antara lain Ata Keranjang Yang terbuat dari akar rotan. Dan yang paling terkenal adalah Kain Gringsing.
gambar : kerajinan yang dibuat oleh masyarakat setempat, seperti ata keranjang, kain gringsing, souvenir semacam telur yang di lukis.
Desa tenganan yang mempunyai luas area sekitar 1.500 hektar, ketika tempat tempat wisata yang lain di Bali berkembang pesat seperti Pantai Kuta, Pantai Dreamland dan lain sebagainya yang sangat meriah dengan kehadiran Hotel, Café, dan kehidupan malamnya. Namun Desa Tenganan tetap saja berdiri kokoh, tidak peduli dengan perubahan jaman dengan tetap bertahan dengan tiga balai desanya yang kusam dan rumah adat yang berderet yang sama persis satu dengan lainnya. Dan tidak hanya itu di desa ini keturunan juga dipertahankan dengan perkawinan antar sesama warga desa. Oleh karena itu Desa Tenganan tetap tradisional dan eksotik, walaupun Masyarakat Tenganan menerima masukan dari dunia luar tetapi tetap saja tidak akan cepat berubah, karena peraturan desa adat /awig-awig mempunyai peranan yang sangat penting terhadap masyarakat Desa Tenganan.
Keindahan pemandangan dan keunikan Desa Adat ini justru lebih menarik dari pada pemandangan pantai yang sudah biasa di kunjungi. Di desa tersebut masyarakatnya masih kental dengan adat tradisi kuno dari zaman leluhur, terutama untuk para wisatawan yang senang menjelajah dan tertarik dengan wisata seni, budaya dan sejarah.
Sebaiknya masyarakat tenganan sendiri mempromosikan keunikan yang terpendam dalam masyarakat tenganan sendiri. Misalnya saja kegiatan Study Tour yang dilakukan oleh siswa SMA yang berkunjung ke Bali, sebaiknya jangan melulu datang ke pantai atau wisata yang memang sudah terkenal di Bali saja. Cobalah mengganti salah satu agenda wisata study tour dengan berkunjung ke desa adat seperti Desa Adat Tenganan di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem ini. Di sana siswa SMA bisa berwisata sambil belajar mengetahui berbagai keragaman budaya yang ada di Bali Aga ini. Karena desa tersebut memang sangat unik dan menarik menjadi tujuan wisata seni dan budaya.
Sebenarnya daya tarik pengunjung desa adat ini sangat kuat, terutama pada saat bulan dimana desa tersebut mengadakan tradisi perang pandan yang hanya dilaksanakan setahun sekali ini. Suatu hal yang sangat menarik dan hanya bisa dijumpai di desa tenganan iini. Di tambah suasana desa yang masih alami, dengan arsitektur Bali serta bangunan rumah penduduk yang masih tradisional. Hal tersebut yang membuat daya tarik desa yang menjadi keunikan tersendiri.
Kunikan dari Desa Tenganan yang lain adalah setiap pengunjung yang datang ke desa tenganan langsung melihat di setiap sudut rumah penduduk terdapat  barang dagangan yang telah tertata  rapi untuk dijual. Pengunjung bisa berjalan jalan mengelilingi desa tenganan sambil melihat barang dagangan yang ada di depan rumah penduduk.
gambar : dagangan yg tertata di depan rumah warga
Sebelumnya saya juga tidak mengerti tentang keadaan Desa Tenganan ini. Namun sebelum saya berangkat mengunjungi desa tersebut saya mencoba mencari tahu tentang desa tersebut. Dan setelah saya berkunjung ke Desa Adat tersebut saya menjadi lebih tahu dan mengerti dengan berbagai keunikan yang ada di desa tersebut. Dan semoga ilmu yang saya dapatkan di Desa Tenganan bermanfaat khususnya untuk diri saya sendiri.
Menurut Malllinowski Tiap unsur kebudayaan pada hakekatnya merupakan manifestasi manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Begitu pula pada masyarakat yang ada di desa tenganan, dengan keunikan yang dimiliki oleh masyarakat tenganan sendiri dengan waktu yang cepat atau pun lambat desa tenganan akan menjadi terkenal seperti wisata yang sudah terkenal di bali karena di tenganan memiliki keunikan yang berbeda dengan masyarakat bali pada umumnya.
Dokumentasi ketika di desa adat tenganan bali aga :) 


 itu foto lokasi observasi KKL 1,, Pend.SosAnt'12 UNNES :)
Semoga bermanfaat :')


Tidak ada komentar:

Posting Komentar