AUGUSTE COMTE
A. RIWAYAT HIDUP
Auguste
Comte yang terkenal sebagai bapak sosiologi dunia, dengan nama lengkap Isidore
Marie Auguste François Xavier
Comte yang lahir di Montpelier, Perancis pada tanggal 19 januari 1798, dan Aguste Comte wafat pada 5 September 1857. Louis ( Ayah
Comte ) seorang pejabat pajak pemerintah , dan ibunya Rosalie ( Boyer ) Comte ,
keduanya monarkis dan taat Katolik Roma . Orang tua comte berasal dari kelas
menengah dan akhirnya sang ayah meraih posisi sebagai petugas resmi pengumpul
pajak lokal.
Comte
adalah seorang mahasiswa yang cerdas namun comte tidak pernah mendapatkan
ijazah sarjana. Ia dan seluruh mahasiswa seangkatanya dikeluarkan dari Ecole
Politechnique karena gagasan politik dan pembangkangan mereka. Hal tersebut berdampak buruk pada karir
akademis comte.
Pada tahun 1817 ia menjadi sekretaris dan “anak angkat” Claude Henri
Saint- Simon, seorang filusuf yang empat puluh tahun lebih tua dari Comte
(Manuel, 1962:251). Mereka bekerja sama selama beberapa tahun dan Comte
mengakui besarnya hutang pada Saint- Simon: ”aku benar- benar berhutang secara
intelektual pada Saint- Simon …ia banyak berperan dalam mengenalkan aku ke
wilayah filsafat yang kini aku ciptakan untuk diriku sendiri dan tanpa ragu aku
jalani seumur hidupku” (Durkheim, 1928/ 1962 :144). Namun pada tahun 1824
mereka bertengkar karena comte yakin bahwa Saint- Simon ingin menghapuskan nama
Comte dari daftar ucapan terima kasihnya. kemudian Comte menulis bahwa
hubungannya dengan Saint- Simon “mengerikan” (Pickering, 1993:238)
dan menggambarkannya sebagai “penipu hina” ( Durkheim, 1928/1962 : 144 ). Pada
tahun 1852, Comte berkata tentang Saint- Simon, “Aku tidak berhutang apapun
pada orang ini” (Pickering, 1993:240).
Heibron
(1995) menggambarkan bahwa Comte bertubuh pendek, tingginya sekitar 5 kaki, 2
inci, dengan mata juling, dan sangat merasa resah dengan situasi yang ada di
sekitarnya, khususnya ketika menyangkut perempuan. Ia juga terasing dari masyarakat secara keseluruhan. Ini dapat membantu
menjelaskan fakta bahwa Comte menikah dengan Caroline Massin yang berlangsung
dari tahun 1825 hingga 1842. Ia adalah seorang anak haram yang belakangan
disebut “pelacur” oleh Comte, meskipun tuduhan itu akhir- akhir ini
dipertanyakan (Pickering, 1997: 37).
ia
menceraikan istrinya Caroline Massin Comte setelah 17 tahun menikah. Sejak saat
itu ia mengandalkan teman-teman dan dermawan untuk mendukung dia . Pada tahun 1844
, Comte menjadi terlibat dengan Clotilde de Vaux , seorang bangsawan Prancis
dan penulis . Karena dia tidak bercerai dari suaminya berselingkuh nya ,
hubungannya dengan Comte tetap platonis , pikir keduanya jatuh cinta . Setelah
kematiannya , pada tahun 1846 , Comte menulis Sistem Polity Positif . Dalam
perumusan dari " agama kemanusiaan , " Comte mengusulkan suatu ordo
religius didasarkan pada akal dan kemanusiaan , menekankan moralitas sebagai
landasan organization.
Kegelisahan pribadi yang dialami Comte
berlawanan dengan rasa aman yang begitu besar terhadap kapasitas
intelektualnya, dan tampak bahwa rasa percaya kuat. Pada tahun 1826, Comte mengolah satu skema yang akan digunakannya untuk
menyampaikan serangkaian 72 kuliah umum tentang filsafatnya. Kuliah yang
diberikan Comte menarik banyak audien akan tetapi dihentikan pada perkuliahan
ketiga dikarenakan Comte mengalami masalah mental. Bahkan pernah mencoba bunuh
diri.
Meskipun
Comte tidak memperoleh posisi regular di Ecole Polytechnique, Comte mendapatkan
posisi minor sebagai asisten pengajar pada tahun 1832. Pada tahun 1837 Comte
mendapatkan posisi tambahan sebagai penguji ujian masuk, dan untuk pertama
kalinya, ini memberikan pendapatan yang memadai karena, selama ini ia sering
kali tergantung secara ekonomis terhadap keluarganya. Selama kurun waktu
tersebut Comte mengerjakan enam jilid karya yang melambungkan namanya, Cours De
Philosophie Positive, yang secara keseluruhan terbit pada tahun 1842, dimana
jilid pertama terbit pada tahun 1830. Dalam karya ini Comte memaparkan
pandangannya bahwa sosiologi adalah ilmu tertinggi. Ia juga menyerang Ecole
Polytechenique, dan hasilnya adalah pada tahun 1844 pekerjaannya sebagai
asisten tidak diperpanjang. Pada tahun 1851 ia menyelesaikan 4 jilid buku Systeme
De Politique Positive, yang lebih bertujuan praktis, dan menawarkan rencana
reorganisasi masyarakat.
Heilbron menandaskan bahwa pada tahun 1838 terjadi
kehancuran besar pada kehidupan Comte dan sejak saat itu ia kehilangan harapan
bahwa setiap orang akan memikirkan karyanya secara serius tentang ilmu
pengetahuan secara umum, dan khususnya pada sosiologi. Pada saat yang bersamaan
ia mengawali hidup “yang menyehatkan otak”; yaitu, Comte mulai tidak mau
membaca karya orang lain, yang akibatnya adalah ia menjadi kehilangan harapan
untuk dapat berhubungan dengan perkembangan intelektual terkini. Setelah tahun 1838 ia mulai mengembangkan gagasan anehnya tentang revormasi
masyarakat yang dipaparkan dalam bukunya Systeme De Politique Positive. Comte
mulai menghayalkan dirinya sebagai seorang pendeta tinggi agama baru
kemanusiaan; ia percaya pada dunia yang pada akhirnya akan dipimpin oleh
sosiolog – pendeta. Dalam hal ini, Comte banyak dipengaruhi oleh latar
belakang katoliknya. Menarik untuk disimak ditengah – tengah gagasan berani
itu, pada akhirnya Comte memang mendapatkan banyak pengikut di Prancis,
maupun disejumlah negara lain.
B. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN AUGUSTE COMTE
Kondisi sosial politik setelah revolusi perancis
mengalami pergolakan serta kehancuran, sehingga diharapkan akan menuju
masyarakat baru yang didasarkan pada prinsip-prinsip hukum alam mengenai
persamaan dan kebebasan.
Martindale (1966 : 62-65) melihat bahwa pemikiran
Comte merupakan sintesa dari dua konsep yang saling bertentangan yaitu mengenai
keteraturan sosial (Positivisme dan organisme).
v Positivisme
a. Menerima
sepenuhnya pandangan dunia ilmiah atau berdasarkan hukum-hukum alam, serta
strategi untuk mengadakan pembaruan dalam masyarakat.
b. Bahwa
hukum-hukum alam yang mengendalikan manusia dan gejala sosial dapat
dipergunakan sebagai dasar untuk mengadakan pembaruan-pembaruan sosial dan
politik untuk menyelaraskan institusi-institusi masyarakat tersebut.
c. Hasilnya
=> masyarakat dengan penalaran-penalaran akal budi yang akan menghasilkan
kerjasama, yang akan melenyapkan : Takhayul, ketakutan, kebodohan, paksaan dan
konflik.
v Organisme
a. Keseluruhan
bagian dalam masyarakat hanya dapat dipahami secara totalitas atau bahkan
sistem organis berlandaskan pada saling ketergantungan antara individu-individu
yang tempatnya berbeda-beda dalam kehidupan.
b. Prespektif
organis menekankan pada tradisi, dengan dasar-dasar tatanan moral dan konsensus
moral yang mengikat individu.
Ada beberapa sumber penting
yang menjadi latar belakang yang menentukan jalan pikiran Comte, yaitu:
- Revolusi perancis dengan segala aliran pikiran yang berkembang pada masa itu. Comte tidaklah dapat dipahami tanpa latar belakang revolusi perancis dan juga Restorasi Dinasti Bourbon di Perancis yaitu pada masa timbulnya krisis sosial yang maha hebat dimasa itu. Sebagai seorang ahli pikir, Comte berusaha untuk memahami krisis yang sedang terjadi tersebut. ia berpendapat bahwa manusia tidaklah dapat keluar dari krisis sosial yang terjadi itu tanpa melalui pedoman – pedoman berpikir yang bersifat scientific. Maka revolusi itu merupakan stimulus bagi pikiran Comte sendiri,
- Sumber lain yang menjadi latar belakang pemikiran Comte adalah filsafat sosial yang berkembang di Perancis pada abad ke-18. Khususnya filsafat yang dikembangkan oleh para penganut paham encyclopedist ini, terutama dasar – dasar pikirannya, sekalipun kelak ia mengambil posisi tersendiri setelah keluar dari aliran ini.
- Sumber lainnya adalah aliran reaksioner dari para ahli pikir Thoecratic terutama yang bernama De Maistre dan De Bonald. Aliran reaksioner dalam pemikiran Katolik Roma adalah aliran yang menganggap bahwa abad pertengahan kekuasaan gereja sangat besar, adalah periode organis, yaitu suatu periode yang secara paling baik dapat memecahkan berbagai masalah – masalah sosial. Aliran ini menentang pendapat para ahli yang menganggap bahwa abad pertengahan adalah abad di mana terjadinya stagmasi didalam ilmu pengetahuan, karena kekuasaan gereja yang demikian besar di segala lapangan kehidupan. Comte telah membaca karya – karya pemikir Theocratic dibawah pengaruh Sain– Simont sebagaimana diketahui Sain– Simont juga menganggap bahwa abad pertengahan adalah periode organic yang bersifat konstruktif.
- Sumber terakhir yang melatarbelakangi pemikiran Comte adalah lahirnya aliran yang dikembangkan oleh para pemikir sosialistik, terutama yang diprakarsai oleh Sain– Simont. Comte telah membangun hubungan yang sangat erat dengan Sain– Simont dan juga dengan para ahli pikir sosialis Prancis lainnya. Comte di suatu pihak akan membangun pengetahuan sosial dan dipihak lain akan membangun kehidupan ilmu pengetahuan sosial yang bersifat scientific. Sebenarnya Comte memiliki sifat tersendiri terhadap aliran ini, tetapi sekalipun demikian dasar – dasar aliran masih tetap dianutnya terutama pemikiran mengenai pentingnya suatu pengawasan kolektif terhadap masyarakat, dan mendasarkan pengawasan tersebut didalam suatu dasar yang bersifat scientific.
Comte adalah
penyumbang terbesar untuk membangun sosiologi sebagai suatu ilmu. Dalam buku
filsafat positifnya, yang pada dasarnya merupakan suatu buku tentang filsafat
ilmu pengetahuan dan uraian tentang itu telah mengambil tempat paling banyak
dalam bukunya itu. Comte menguraikan metoda – metoda berpikir ilmiah. Comte
mengatakan bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya tidak lebih dari pada suatu
perluasan metode yang sangat sederhana dari akal sehat, terhadap semua
fakta– fakta yang tunduk kepada akal pikiran manusia. Comte sangat mendasarkan
seluruh pemikirannya kepada perkembangan atau kemampuan akal pikiran atau
intelegensi manusia. Dengan cara berpikir seperti ini nantinya akan melahirkan banyak
kritik terhadap Comte dengan filsafat positif yang dikembangkann
C. TEORI – TEORI AUGUSTE COMTE DAN PERKEMBANGANNYA DALAM
ILMU SOSIOLOGI
Auguste Comte membagi
sosiologi menjadi dua bagian yaitu Social Statics dan Social Dynamic.
Social statics dimaksudkannya sebagai suatu study tentang hukum– hukum
aksi dan reaksi antara bagian– bagian dari suatu sistem sosial. Social
statics merupakan bagian yang paling elementer dari ilmu sosiologi, tetapi
dia bukanlah bagian yang paling penting dari study mengenai sosiologi, karena
pada dasarnya social statics merupakan hasil dari suatu pertumbuhan.
Bagian yang paling penting
dari sosiologi menurut Auguste Comte adalah apa yang disebutnya dengan social
dynamic, yang didefinisikannya sebagai teori tentang perkembangan dan
kemajuan masyarakat. Karena social dynamic merupakan study tentang
sejarah yang akan menghilangkan filsafat yang spekulatif tentang sejarah itu
sendiri.
Pembagian sosiologi kedalam
dua bagian ini bukan berarti akan memisahkannya satu sama lain. Bila social
statics merupakan suatu study tentang masyarakat yang saling berhubungan
dan akan menghasilkan pendekatan yang paling elementer terhadap sosiologi,
tetapi study tentang hubungan– hubungan sosial yang terjadi antara bagian –
bagian itu tidak akan pernah dapat dipelajari tanpa memahaminya sebagai hasil
dari suatu perkembangan. oleh karena itu, Comte berpendapat bahwa tidaklah akan
dapat diperoleh, suatu pemahaman yang layak dari suatu masalah sosial tanpa
mengguanakan pendekatan social dynamic atau pendekatan historis.
1. Social Dynamics
Social dynamics adalah teori tentang perkembangan manusia. Comte tidak membicarakan
tentang asal usul manusia karena itu berada di luar batas ruang lingkup ilmu
pengetahuan. Karena ajaran filsafat positif yang diajukannya mengatakan bahwa
semua ilmu pengetahuan haruslah dapat dibuktikan dalam kenyataan. Dia
berpendapat bahwa di dalam masyarakat terjadi perkembangan yang terus menerus,
sekalipun dia juga menambahkan bahwa perkembangan umum dari masyarakat tidak
merupakan jalan lurus.
Ada banyak hal yang mengganggu
perkembangan suatu masyarakat seperti faktor ras manusia sendiri, faktor iklim
dan faktor tindakan politik. Comte berpendapat bahwa jawaban tentang
perkembangan sosial harus dicari dari karakteristik yang membedakan antara
manusia dengan binatang. Menurut Comte, yang membedakan manusia dengan binatang
adalah perkembangan inteligensi manusia yang lebih tinggi. Comte mengajukan
hukum tentang 3 tingkatan inteligensi manusia, yaitu pemikiran yang bersifat
theologis atau fictious, metaphisik atau abstrak, scientific atau positive.
Sjarah umat manusia sebenarnya ditentukan oleh pertumbuhan dari pemikiran
manusia, hukum tertinggi dari sosiologi haruslah hukum tentang perkembangan
inteligensi manusia.
- The Law of three stages
Merupakan hukum tentang perkembangan inteligensi
manusia, dan yang berlaku tidak hanya terhadap perkembangan manusia, tetapi
juga berlaku terhadap perkembangan individu. Hukum ini merupakan generalisasi
dari tiap bagian dari pemikiran manusia yang berkembang semakin maju melalui 3
tahap pemikiran, yaitu The Telogical, or Fictitious; The Metaphysical or
Abstract; dan The Scientific, or Positive.
Tahap tingkatan pemikiran yang bersifat theological
atau fictious dibagi kedalam 3 bagian yaitu Fethism, adalah untuk
menggambarkan tingkatan pemikiran yang menganggap bahwa semua gejala yang
terjadi dan bergerak berada dibawah pengaruh dari suatu kekuatan supernatural
atau suatu kekuatan ghaib. Dalam pemikiran ini, manusia
menginterpretasikan segala hal sebagai karya (hasil tindakan) dari supernatural
being. Oleh para ahli bidang agama dianggap sebagai tahap perkembangan agama
pada tingkatan yang animisme. Tetapi evolusi pemikiran manusia
berlangsung terus. Melalui suatu proses atau daya imajinasi, manusia mulai
menyederhanakan daripada kekuatan-kekuatan gaib yang dianggap menguasai segala
benda-benda dan sesuatu yang bergerak itu. Proses penyederhanaan ini menuju ke
arah tahap pemikiran yang bersifat polytheism. Polytheism, yaitu tingkat
pemikiran bahwa segala sesuatu yang di alam ini dikemudikan oleh kemauan
dewa-dewa. Dalam ini timbulah anggapan bahwa dewalah yang menguasai
gejala-gejala tertentu, dimana masing-masing dewa itu hanya mengatur suatu
kekuatan atau bagian khusus tertentu. Dari tahap pemikiran polytheism,
terjadilah hal-hal yang bersifat kontradiktif, terutama mengenai kekuatan dari
berbgai dewa. Ada semacam kekayaan yang timbul dan manusia akhirnya tiba pada
suatu kesimpulan, bahwa dari berbagai dewa-dewa tersebut, pastilah ada suatu
dewa yang dianggap memiliki kedudukan tertinggi, dibandingkan dengan dewa yang
lain. Tahap ini menjurus kearah strukturisasi dari para dewa tersebut, yaitu
anggapan atau pengakuan terhadap adanya dewa yang tertinggi yang mengatur
dewa-dewa yang lain. Dari pemikiran penyederhanaan dewa-dewa tersebut,
sampailah manusia pada tingkat pemikiran yang menganggap bahwa hanya ada satu
Tuhan yang mengendalikan alam ini, yang disebut dengan monotheism.
- The Law of the hierarchie of the sciencies (hierarki dari ilmu pengetahuan)
Di dalam menyusun susunan ilmu
pengetahuan, Comte menyadarkan diri kepada tingkat perkembangan pemikiran
manusia dengan segala tingkah laku yang terdapat didalamnya. Sehingga sering
kali terjadi didalam pemikiran manusia, kita menemukan suatu tingkat pemikiran
yang bersifat scientific. Sekaligus pemikiran yang bersifat theologies didalam
melihat gejala-gejala atau kenyataan-kenyataan.
- The Law of the correlation of practical activities
Comte yakin bahwa ada hubungan
yang bersufat natural antara cara berfikir yang theologies dengan militerisme.
Cara berfikir theologies mendorong timbulnya usaha-usaha untuk menjawab semua
persoalan melalui kekuatan(force). Karena itu, kekuasaan dan kemenangan selalu
menjadi tujuan daripada masyarakat primitive dalam hubungan satu sama lain.
Pada tahap yang bersifat
metafisis, prinsip-prinsip hukum (khususnya hukum alam) menjadi dasar daripada
organisasi kemasyarakatan dan hubungan antara manusia. Tahap metafisis yang
bersifat legalistic demikian ini merupakan tahap transisi menuju ke tahap yang
bersifat positif.
- The Law of the correlation of the feelings
Comte menganggap bahwa
masyarakat hanya dapat dipersatukan oleh feelings. Demikianlah, bahwa sejarah
telah memperlihatkan adanya korelasi antara perkembangan pemikiran manusia
dengan perkembangan dari social sentiment. Didalam tahap yang teologis,
sentiment sosial dan rasa simpati hanya terbatas dalam masyarakat lokal atau
terbatas dalam city state. Tetapi dalam abad pertengahan, sosial sentiment berkembang
semakin meluas seiring dengan perkembangan agama Kristen. Abad pertengahan
adalah abad yang oleh Comte dianggap sebagai abad dalam tahap metafisis. Tetapi
dalam tahap yang positif/ scientific, social simpati berkembang menjadi semakin
universal. Comte yakin bahwa sikap positif dan scientific pikiraan manusia akan
mampu memperkembangkan semangat alturistis dan menguniversilkan perasaan
sosial(social simpati).
2. Social statics
Dengan social statics
dimaksudkan Comte sebagai teori tentang dasar masyarakat. Comte membagi
sosiologi kedalam dua bagian yang memiliki kedudukan yang tidak sama. Sekalipun
social statics adalah bagian yang lebih elememter didalam sosiologi
tetapi kedudukannya tidak begitu penting dibandingkan dengan social
dynamics. Fungsi dari sosial statics adalah untuk mencari hukum –
hukum tentang aksi dan reaksi dari pada berbagai bagian didalam suatu sistem
sosial. Sedangkan dalam sosial statics mencari hukum – hukum tentang
gejala – gejala sosial yang bersamaan waktu terjadinya. Didalam sosial
statics, terdapat 4 doktrin yaitu doktrin tentang individu, keluarga,
masyarakat dan negara.