Kamis, 05 Desember 2013

‘Kehidupan Masyarakat Di Pemalang Selatan’




‘Kehidupan Masyarakat Di Pemalang Selatan’
Pemalang adalah salah satu kota/kabupaten di provinsi Jawa tengah,Pemalang terletak diantara Pekalongan dan Tegal.Secara geografis Pemalang berada pada 109°17²30¢-- 109°40²30¢ Bujur Timur (BT) dan 8°52²30¢--7°20²11¢ Lintang Selatan (LS) dengan luas wilayah 111.500 hektar.bagian utara berbatasan dengan Laut Jawa,sisi selatan berbatasan dengan Kabupaten Purbalingga,sisi barat berbatasan dengan Kabupaten Tegal,dan ujung timur berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan.
Tempat tinggal saya terletak di suatu kecamatan pedalaman di pemalang selatan, di suatu desa yang termasuk dalam wilayah kota pemalang, yang paling ujung dan  tepaaat dibawah kaki gunung slamet. kurang lebih sekitar 50 Km dari kota pemalang. Yaitu Desa Karangsari, Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang.
Sebuah desa yang menurut saya sangat unik. Sebuah Desa yang merupakan desa termaju sekecamatan. Desa yang memiliki banyak keragaman dan keunikan tersendiri serta banyak masuknya perubahan-perubahan yang menjadi desa ini lain dari desa-desa yang ada di kecamatan pulosari.
Desa ini terletak tepat dibawah kaki gunung slamet, yang merupakan salah satu gunung merapi yang masih aktif di jawa tengah. Suhu udara waktu itu teramat dingin menggigit, terutama pada waktu pagi dan malam hari, meski sekarangpun masih terasa dingin terutama untukku yg sudah terbiasa tinggal di perkotaan. Seiring berjalannya waktu, pertambahan jumlah pendudukpun semakin nyata terlihat, hal ini diiringi dengan bertambah padatnya pemukiman terutama di daerah Kerajan. Dahulu masih  banyak lahan-lahan kosong antara satu rumah dengan rumah yang lain, tapi sekarang kelihatan lebih berhimpit.

Sudah menjadi hukum alam bahwa semakin banyak  jumlah penduduk, dan semakin padat pemukiman artinya semakin bertambah masalah. Kondisi tersebut menuntut kepiawaian pengelola masyarakat, tentu saja dalam hal ini adalah kepala desa beserta jajarannya.

Desa ini terkenal pula karena terdapat jalan raya yang bisa dilalui oleh para pengunjung yang akan berlibur ke GUCI (tegal). Sehingga pada weekend maupun hari libur besar lainya desa ini ramai dilintasi kendaraan yang hendak berkunjung ke guci.
Gunung Slamet yang tingginya 3.428 meter dari permukaan laut adalah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, dan merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jawa. Kawah IV merupakan kawah terakhir yang masih aktif sampai sekarang, dan terakhir aktif hingga pada level SIAGA medio pertengahan 2009.
Sebagaimana gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Slamet terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia pada Lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa. Retakan pada lempeng membuka jalur lava ke permukaan. Catatan letusan diketahui sejak abad ke-19. Gunung ini aktif dan sering mengalami erupsi skala kecil. Aktivitas terakhir adalah pada bulan Mei 2009 dan sampai Juni masih terus mengeluarkan lava pijar. Sebelumnya ia tercatat meletus pada tahun 1999.
Gunung yang sering mengeluarkan gas-gas dan asap, terkadang memuntahkan lava dan abu. Yang membuat warga masyarakat cemas dan khawatir apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun warga sekitar juga kadang sudah terbiasa dengan aktifitas gunung yang tiap malam terdengar suara gemuruh dari gunung, dan warga setempat hanya menganggap gunung slamet sedang mengeluarkan gas-gas yang ada didalam yang tidak berguna lagi.
Hal tersebut membuat tanah di tempat tinggal saya tergolong subur. Sebagian besar warga masyarakat di daerah tempat tinggal saya bermatapencaharian sebagai petani, mereka mengolah tanahnya sendiri untuk dijadikan sebagai penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Walawpun tidak semua warga masyarakat memiliki tanah (sawah) sendiri, banyak yang bekerja sebagai buruh tani. Yang mempertaruhkan tenaganya, untuk mencari sesuap nasi. Misalnya untuk para lelaki biasanya mereka mengandalkan tenaga untuk membajak sawah. Sedangkan untuk perempuanya biasanya yang menanam pagi (nandur) atau mencabut tanaman liar disekitar tanaman yg ditanam (matun).
Di daerah tempat tinggal saya memang terkenal akan banyak terdapatnya sumber air bersih. Yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari warga desa di karangsari sendiri maupun desa tetangga yang memang tidak memiliki sumber air. Setiap sumber air yang terdapat di desa saya selalu ramai, terutama setiap musim kemarau, warga desa tetangga yang tidak memiliki sumber air datang kesumber air di desa kami untuk mandi dan mencuci baju, serta mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari dirumahnya. Namun jika mengambil air untuk dibawa pulang biasanya mereka membayar sesuai dengan air yang diambil kepada penjaga yang ada di sumber tersebut, uang tersebut biasanya di kumpulkan oleh penjaganya untuk kebersihan dan terjaganya lingkungan sekitar sumber air supaya tidak rusak.
Karena desa karangsari ini merupakan desa yang letaknya tidak jauh dari gunung slamet, warga setempat setiap 5 tahun sekali mengadakan acara ‘ruwatan / sedekah bumi’ agar gunung slamet tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena banyak anggapan atau mitos yang diceritakan dari jaman dahulu. Menurut cerita, Slamet dalam bahasa Indonesia artinya “selamat”. Setidaknya sejak jaman kakek buyut hingga sekarang gunung tersebut tidak pernah “terbatuk - batuk” apalagi meletus. Keberadaan gunung yang memberikan rasa aman dan tenang selama ini seakan memberikan “keselamatan” bagi masyarakat di sekitarnya.
Ada semacam anggapan dimasyarakat bahwa jika sejak dulu Gunung Slamet tersebut sering meletus atau lainnya maka mungkin sejak dulu pula gunung tersebut tidak akan dinamakan Gunung Slamet. Itulah mengapa gunung tersebut dinamakan Gunung Slamet hingga sekarang.
Meski hanya cerita mitos, namun akibat yang dibayangkan sungguh mengerikan. Mitos menceritakan apabila meletusnya Gunung Slamet akan “membelah” Pulau Jawa menjadi dua bagian. Entah itu karena timbulnya rekahan besar yang membentang dari utara ke selatan ( dan air laut mengalir masuk hingga menyatu ) atau karena masing - masing wilayah di barat dan timur bergeser saling menjauh.
Letaknya yang hampir tepat ditengah - tengah antara batas pantai utara dan pantai selatan, serta dikelilingi setidaknya 5 wilayah kabupaten yang berbatasan langsung ( Brebes, Tegal, Pemalang, Banyumas, Purbalingga ) dan 2 wilayah yang tidak langsung ( Kabupaten Cilacap, Kota Tegal ) dimana jika kita lihat di peta akan membentuk suatu garis lurus yang membelah Pulau Jawa.
Tak terbayangkan akibatnya jika memang akhirnya Gunung Slamet benar - benar meletus apalagi dengan letusan yang sangat besar, semua wilayah tersebut masuk dalam jangkuan semburan ( minimal debu atau awan panas ).
Meski mitos tak terbukti, namun bisa dipastikan Pulau Jawa akan lumpuh. Jalur Pantura akan tersendat, jalur selatan tak bisa digunakan dan jalur tengah akan lumpuh total. ..Walauhualam
Seperti halnya kota-kota besar, desa karangsari memiliki pusat pemerintahan pula.masyarakat sendiri sering menyebutnya denngan dukuh Kerajan. Segala aktifitas pemaerintahan desa terbentu disini. Dan segala sarana pprasarana yang paling lengkap pun terdapat di kerajan. Seperti pasar, puskesmas,bank,dsb
1.      Bahasa
Dalam konsep bentang kabupaten pemalang merupakan daerah pesisir dan tidak tergolong dalam bahasa atau daerah banyumasan, namun karena daerah tempat tinggal saya yang merupakan daerah pegunungan dan jauh dari kota pemalang, maka masyarakat desa ini memiliki keunikan tersendiri dalam berbahasa. Bahasa yang digunakan sehari hari dalam berkomunikasi di desa ini tergolong dalam bahasa banyumasan atau sering disebut bahasa ngapak.
Hal tersebut menjadi sebuah keunikan tersendiri untuk masyarakat di wilayah pemalang selatan, terutama untuk kecamatan pulosari yang merupakan sebuah kecamatan yang paling ujung dan tepat di bawah kaki gunung slamet. Karena bahasanya hampir seperti orang banyumas (ngapak) yang medhok.
Penggunaan kata saya = nyong
Kamu = ko
Warga desa karangsari sendiri yang bahasanya juga tergolong dalam bahasa banyumasan (bahasa ngapak) memiliki keunikan lain dalam logat bahasa yang menjadikan ciri khas warga karangsari yaitu setiap berbicara, diakhir pembicaraan tersebut diakhiri dengan kata ‘mah’
Misal :
Apa mah? (apa? )
Cepet mene mah (cepat kesini)
Langka mah (tidak ada)
Logat bahasa tersebut memang sudah mendarah daging pada warga desa karangsari sendiri. Bisa jadi logat tersebut memang sudah ada dari jaman nenek moyang. Dan hanya warga desa karangsari yang menggunakan logat tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.
Setiap individu dalam berinteraksi dengan individu lain menggunakan berbagai macam bahasa. Seperti halnya dalam konsep bentang, bahasa kesusasteraan dan bahasa sehari-hari. Ada berbagai perbedaan berbahasa yang digunakan masyarakat setempat dalam berkomunikasi, sistem tersebt menyangkut perbedaan-perbedaan yang wajib digunakan, mengingat perbedaan kedudukan, pangkat, umur, serta tingkat keakraban antara yang menyapa dan disapa. Hal tersebut uuntuk saling menghormati dan sopan santun sesama masyarakat desa karangsari.
Jika berbicara dengan teman sebaya (seumur) biasanya menggunakan ngoko. Namun jika berkomunikasi dengan orang yang lebih sepuh atau dengan orang yg memiliki kedudukan/pangkat lebih tinggi dari kita biasa menggunakan bahasa krama.hal tersbut membuat warga desa karangsari selalu mengemban dan menjaga sopan santun setiap warga.
Namun seiring berjalanya waktu dan masyarakat desa karangsari mengalami banyak perubahan-perubahan besar yang yang terjadi dalam masyarakat desa karangsari sendiri, mempunyai pengaruh yang lebih besar lagi terhadap sistem gaya-gaya bertingkat dalam bahasa jawa. Sekarang banyak yang terpengaruh oleh budaya luar yang menjadikan anak-anak sampai dewasa menggunakan bahasa indonesia, terutama jika mereka dalam lingkungan sekolah.
2.     Seni
Di desa saya memiliki suatu kesenian dan tradisi yang masih dilaksanakan setiap tahunya oleh warga desa saya. Yaitu tradisi menyambut tahun  baru islam (malam 1 suro) yang diantaranya ada 3 kegiatan (ritual) yang masih dilaksanakan pada malam 1 suro tersebut, yaitu :
Ø  Sesaji yang diletakan disetiap persimpangan jalan, sawah, sumber air maupun sungai.
Sesaji tersebut dibuat oleh beberapa warga desa yang dikoordinir oleh pemerintahan desa saya sendiri dengan meminta dana dari setiap rumah untuk membuat sesaji tersebut. Hal tersebut dilaksanakan bertujuan untuk tolak bala, maksudnya untuk menolak hal-hal buruk yang terjadi dalam masyarakatnya.
Sesaji tersebut berisi berbagai macam jenis hasil bumi yang dihasilkan di desa saya. Seperti padi, palapendhem, palawidja, dsb. hasil bumi tersebut diranggkai di tempat sesaji yang terbuat dari bambu, dan diletakan di setiap persimpangan jalan (pertigaan maupun perempatan jalan), lahan pertanian (sawah) warga yang menjadi mata pencaharian utama bagi para petani yang ada di desa saya, lalu di sumber air yang sebagaimana air tersebut digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebelum meletakan sesaji tersebut di tempat-tempat yang dianggap memiliki hal mistik oleh warga desa, dilakkukan tasyakuran / slametan terlebih dahulu di balai desa, dengan harapan supaya satu tahun kedepan akan lebih baik dari tahun sebelumnya.
Tradisi tersebut dilaksanakan oleh warga desa secara rutin, setiap menyambut malam pergantian tahun baru islam (malam 1 suro).

Ø  Pengajian  di masjid
Selain tradisi meletakan sesaji di tempat-tempat tertentu, warga desa karangsari sendiri memiliki kegiatan lain yaitu Pengajian yang dilaksanakan di Masjid Baitul Khikmah. Pengajian dilaksanakan sehabis sholat isya berjamaah (ba’da isya), lalu dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat suci al-quran, tahlilan, do’a akhir tahun dan do’a awal tahun yang di lakukan bersama-sama di masjid tersebut. Pengajian tersebut diimami oleh salah satu tokoh agama yang ada di desa karangsari
Hal tersebut dilakukan dengan tujuan mengucap rasa syukur kepada Allah swt atas segala kenikmatan yang telah diberikan 1 tahun lalu dan berdoa supaya 1 tahun kedepan lebih baik dari tahun sebelummnya.
Tradisi tersebut dilaksanakan oleh warga desa secara rutin, setiap menyambut malam pergantian tahun baru islam (malam 1 suro).

Ø  Pagelaran wayang kulit (Ruwatan)
Pagelaran wayang kulit yang dilaksanakan dilapangan dekat balaidesa karangsari, kegiatan tersebut hanya dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. acara utamanya adalah Ngruwat bumi yaitu pagelaran wayang kulit yang laksanakan selama sehari semalam tepatnya dimalam pergantian tahun baru islam (malam 1 suro). Tujuan dilaksanakanya Pagelaran wayang tersebut juga untuk menyambut tahun baru islam.
Karena pagelaran wayang kulit tersebut hanya dilakukan setiap 5 tahun sekali, setiap ada acara tersebut sudah pasti sangat ramai. dalam pagelaran tersebut terbuka untuk umum, bukan hanya warga desa karangsari saja yang menikmati acara tersebut, semua orang boleh menonton secara gratis. Dan bukan hanya para orang tua saja yang menonton acara tersebut, namun dari mulai anak-anak, remaja maupun dewasa juga menonton acara pagelaran wayang kulit tersebut. Dilain sisi, acara tersebut juga bertujuan untuk mengenalkan dan mempopulerkan salah satu kesenian dan kebudayaan jawa kepada para anak-anak yang ada di desa saya dan supaya kesenian tersebut dilestarikan oleh para penerus bangsa. Khususnya untuk para anak-anak yang menonton acara tersebut.
 Hal tersebut dilakukan setiap 5 tahun sekali yang merupakan wujud syukur terhadap tuhan yang maha esa atas segala ciptaanya.  Dan dilaksanakan bertujuan untuk tolak bala, maksudnya untuk menolak hal-hal buruk yang terjadi dalam masyarakatnya.