‘Kehidupan Masyarakat Di Pemalang
Selatan’
Pemalang adalah salah satu kota/kabupaten di provinsi
Jawa tengah,Pemalang terletak diantara Pekalongan dan Tegal.Secara geografis
Pemalang berada pada 109°17²30¢-- 109°40²30¢ Bujur Timur (BT) dan
8°52²30¢--7°20²11¢ Lintang Selatan (LS) dengan luas wilayah 111.500 hektar.bagian
utara berbatasan dengan Laut Jawa,sisi selatan berbatasan dengan Kabupaten
Purbalingga,sisi barat berbatasan dengan Kabupaten Tegal,dan ujung timur
berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan.
Tempat tinggal saya terletak di suatu
kecamatan pedalaman di pemalang selatan, di suatu desa yang termasuk dalam
wilayah kota pemalang, yang paling ujung dan
tepaaat dibawah kaki gunung slamet. kurang lebih sekitar 50 Km dari kota
pemalang. Yaitu Desa Karangsari, Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang.
Sebuah desa yang menurut saya sangat
unik. Sebuah Desa yang merupakan desa termaju sekecamatan. Desa yang memiliki banyak
keragaman dan keunikan tersendiri serta banyak masuknya perubahan-perubahan
yang menjadi desa ini lain dari desa-desa yang ada di kecamatan pulosari.
Desa ini terletak tepat dibawah kaki gunung slamet, yang merupakan salah
satu gunung merapi yang masih aktif di jawa tengah. Suhu udara waktu itu
teramat dingin menggigit, terutama pada waktu pagi dan malam hari, meski
sekarangpun masih terasa dingin terutama untukku yg sudah terbiasa tinggal di
perkotaan. Seiring berjalannya waktu, pertambahan jumlah pendudukpun semakin
nyata terlihat, hal ini diiringi dengan bertambah padatnya pemukiman
terutama di daerah Kerajan. Dahulu
masih banyak lahan-lahan kosong antara satu rumah dengan rumah yang lain, tapi sekarang kelihatan lebih berhimpit.
Sudah menjadi hukum alam bahwa semakin banyak jumlah penduduk, dan semakin padat pemukiman artinya semakin bertambah masalah. Kondisi tersebut menuntut kepiawaian pengelola masyarakat, tentu saja dalam hal ini adalah kepala desa beserta jajarannya.
Desa ini terkenal pula karena terdapat jalan raya yang bisa dilalui oleh para pengunjung yang akan berlibur ke GUCI (tegal). Sehingga pada weekend maupun hari libur besar lainya desa ini ramai dilintasi kendaraan yang hendak berkunjung ke guci.
Sudah menjadi hukum alam bahwa semakin banyak jumlah penduduk, dan semakin padat pemukiman artinya semakin bertambah masalah. Kondisi tersebut menuntut kepiawaian pengelola masyarakat, tentu saja dalam hal ini adalah kepala desa beserta jajarannya.
Desa ini terkenal pula karena terdapat jalan raya yang bisa dilalui oleh para pengunjung yang akan berlibur ke GUCI (tegal). Sehingga pada weekend maupun hari libur besar lainya desa ini ramai dilintasi kendaraan yang hendak berkunjung ke guci.
Gunung Slamet yang tingginya 3.428 meter dari permukaan
laut adalah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kabupaten
Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, dan merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah serta
kedua tertinggi di Pulau Jawa. Kawah IV
merupakan kawah terakhir yang masih aktif sampai sekarang, dan terakhir aktif
hingga pada level SIAGA medio pertengahan 2009.
Sebagaimana
gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Slamet terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia pada Lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa. Retakan pada lempeng membuka
jalur lava ke permukaan. Catatan letusan diketahui sejak abad ke-19. Gunung ini
aktif dan sering mengalami erupsi skala kecil. Aktivitas terakhir adalah pada
bulan Mei 2009 dan sampai Juni masih terus mengeluarkan lava pijar. Sebelumnya
ia tercatat meletus pada tahun 1999.
Gunung yang sering mengeluarkan gas-gas
dan asap, terkadang memuntahkan lava dan abu. Yang membuat warga masyarakat
cemas dan khawatir apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun warga
sekitar juga kadang sudah terbiasa dengan aktifitas gunung yang tiap malam
terdengar suara gemuruh dari gunung, dan warga setempat hanya menganggap gunung
slamet sedang mengeluarkan gas-gas yang ada didalam yang tidak berguna lagi.
Hal tersebut membuat tanah di tempat
tinggal saya tergolong subur. Sebagian besar warga masyarakat di daerah tempat
tinggal saya bermatapencaharian sebagai petani, mereka mengolah tanahnya
sendiri untuk dijadikan sebagai penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari mereka. Walawpun tidak semua warga masyarakat memiliki tanah
(sawah) sendiri, banyak yang bekerja sebagai buruh tani. Yang mempertaruhkan
tenaganya, untuk mencari sesuap nasi. Misalnya untuk para lelaki biasanya
mereka mengandalkan tenaga untuk membajak sawah. Sedangkan untuk perempuanya
biasanya yang menanam pagi (nandur) atau mencabut tanaman liar disekitar
tanaman yg ditanam (matun).
Di daerah tempat tinggal saya memang terkenal akan banyak terdapatnya
sumber air bersih. Yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari warga desa di
karangsari sendiri maupun desa tetangga yang memang tidak memiliki sumber air.
Setiap sumber air yang terdapat di desa saya selalu ramai, terutama setiap
musim kemarau, warga desa tetangga yang tidak memiliki sumber air datang
kesumber air di desa kami untuk mandi dan mencuci baju, serta mengambil air
untuk kebutuhan sehari-hari dirumahnya. Namun jika mengambil air untuk dibawa
pulang biasanya mereka membayar sesuai dengan air yang diambil kepada penjaga
yang ada di sumber tersebut, uang tersebut biasanya di kumpulkan oleh penjaganya
untuk kebersihan dan terjaganya lingkungan sekitar sumber air supaya tidak
rusak.
Karena desa karangsari ini merupakan
desa yang letaknya tidak jauh dari gunung slamet, warga setempat setiap 5 tahun
sekali mengadakan acara ‘ruwatan / sedekah bumi’ agar gunung slamet tidak
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena banyak anggapan atau mitos yang
diceritakan dari jaman dahulu. Menurut cerita,
Slamet dalam bahasa Indonesia artinya “selamat”. Setidaknya sejak jaman kakek
buyut hingga sekarang gunung tersebut tidak pernah “terbatuk - batuk” apalagi
meletus. Keberadaan gunung yang memberikan rasa aman dan tenang selama ini
seakan memberikan “keselamatan” bagi masyarakat di sekitarnya.
Ada semacam anggapan dimasyarakat bahwa jika sejak
dulu Gunung Slamet tersebut sering meletus atau lainnya maka mungkin sejak dulu
pula gunung tersebut tidak akan dinamakan Gunung Slamet. Itulah mengapa gunung
tersebut dinamakan Gunung Slamet hingga sekarang.
Meski hanya cerita mitos, namun akibat yang
dibayangkan sungguh mengerikan. Mitos menceritakan apabila meletusnya Gunung
Slamet akan “membelah” Pulau Jawa menjadi dua bagian. Entah itu karena
timbulnya rekahan besar yang membentang dari utara ke selatan ( dan air laut
mengalir masuk hingga menyatu ) atau karena masing - masing wilayah di barat
dan timur bergeser saling menjauh.
Letaknya yang hampir tepat ditengah - tengah antara
batas pantai utara dan pantai selatan, serta dikelilingi setidaknya 5 wilayah
kabupaten yang berbatasan langsung ( Brebes, Tegal, Pemalang, Banyumas,
Purbalingga ) dan 2 wilayah yang tidak langsung ( Kabupaten Cilacap, Kota Tegal
) dimana jika kita lihat di peta akan membentuk suatu garis lurus yang membelah
Pulau Jawa.
Tak terbayangkan akibatnya jika memang akhirnya
Gunung Slamet benar - benar meletus apalagi dengan letusan yang sangat besar,
semua wilayah tersebut masuk dalam jangkuan semburan ( minimal debu atau awan
panas ).
Meski mitos tak terbukti, namun bisa dipastikan
Pulau Jawa akan lumpuh. Jalur Pantura
akan tersendat, jalur selatan tak bisa digunakan dan jalur tengah akan lumpuh
total. ..Walauhualam
Seperti halnya kota-kota besar, desa karangsari
memiliki pusat pemerintahan pula.masyarakat sendiri sering menyebutnya denngan
dukuh Kerajan. Segala aktifitas pemaerintahan desa terbentu disini. Dan segala
sarana pprasarana yang paling lengkap pun terdapat di kerajan. Seperti pasar,
puskesmas,bank,dsb
1.
Bahasa
Dalam konsep bentang kabupaten pemalang
merupakan daerah pesisir dan tidak tergolong dalam bahasa atau daerah banyumasan,
namun karena daerah tempat tinggal saya yang merupakan daerah pegunungan dan
jauh dari kota pemalang, maka masyarakat desa ini memiliki keunikan tersendiri
dalam berbahasa. Bahasa yang digunakan sehari hari dalam berkomunikasi di desa
ini tergolong dalam bahasa banyumasan atau sering disebut bahasa ngapak.
Hal tersebut menjadi sebuah keunikan
tersendiri untuk masyarakat di wilayah pemalang selatan, terutama untuk
kecamatan pulosari yang merupakan sebuah kecamatan yang paling ujung dan tepat
di bawah kaki gunung slamet. Karena bahasanya hampir seperti orang banyumas
(ngapak) yang medhok.
Penggunaan kata saya = nyong
Kamu = ko
Warga desa karangsari sendiri yang
bahasanya juga tergolong dalam bahasa banyumasan (bahasa ngapak) memiliki
keunikan lain dalam logat bahasa yang menjadikan ciri khas warga karangsari
yaitu setiap berbicara, diakhir pembicaraan tersebut diakhiri dengan kata ‘mah’
Misal :
Apa mah? (apa? )
Cepet mene mah (cepat kesini)
Langka mah (tidak ada)
Logat bahasa tersebut memang sudah
mendarah daging pada warga desa karangsari sendiri. Bisa jadi logat tersebut
memang sudah ada dari jaman nenek moyang. Dan hanya warga desa karangsari yang
menggunakan logat tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.
Setiap individu dalam berinteraksi
dengan individu lain menggunakan berbagai macam bahasa. Seperti halnya dalam
konsep bentang, bahasa kesusasteraan dan bahasa sehari-hari. Ada berbagai
perbedaan berbahasa yang digunakan masyarakat setempat dalam berkomunikasi,
sistem tersebt menyangkut perbedaan-perbedaan yang wajib digunakan, mengingat
perbedaan kedudukan, pangkat, umur, serta tingkat keakraban antara yang menyapa
dan disapa. Hal tersebut uuntuk saling menghormati dan sopan santun sesama
masyarakat desa karangsari.
Jika berbicara dengan teman sebaya
(seumur) biasanya menggunakan ngoko. Namun jika berkomunikasi dengan orang yang
lebih sepuh atau dengan orang yg memiliki kedudukan/pangkat lebih tinggi dari
kita biasa menggunakan bahasa krama.hal tersbut membuat warga desa karangsari
selalu mengemban dan menjaga sopan santun setiap warga.
Namun seiring berjalanya waktu dan
masyarakat desa karangsari mengalami banyak perubahan-perubahan besar yang yang
terjadi dalam masyarakat desa karangsari sendiri, mempunyai pengaruh yang lebih
besar lagi terhadap sistem gaya-gaya bertingkat dalam bahasa jawa. Sekarang
banyak yang terpengaruh oleh budaya luar yang menjadikan anak-anak sampai
dewasa menggunakan bahasa indonesia, terutama jika mereka dalam lingkungan
sekolah.
2.
Seni
Di desa saya memiliki suatu kesenian
dan tradisi yang masih dilaksanakan setiap tahunya oleh warga desa saya. Yaitu
tradisi menyambut tahun baru islam
(malam 1 suro) yang diantaranya ada 3 kegiatan (ritual) yang masih dilaksanakan
pada malam 1 suro tersebut, yaitu :
Ø Sesaji yang
diletakan disetiap persimpangan jalan, sawah, sumber air maupun sungai.
Sesaji tersebut
dibuat oleh beberapa warga desa yang dikoordinir oleh pemerintahan desa saya
sendiri dengan meminta dana dari setiap rumah untuk membuat sesaji tersebut.
Hal tersebut dilaksanakan bertujuan untuk tolak bala, maksudnya untuk menolak
hal-hal buruk yang terjadi dalam masyarakatnya.
Sesaji tersebut
berisi berbagai macam jenis hasil bumi yang dihasilkan di desa saya. Seperti
padi, palapendhem, palawidja, dsb. hasil bumi tersebut diranggkai di tempat
sesaji yang terbuat dari bambu, dan diletakan di setiap persimpangan jalan
(pertigaan maupun perempatan jalan), lahan pertanian (sawah) warga yang menjadi
mata pencaharian utama bagi para petani yang ada di desa saya, lalu di sumber
air yang sebagaimana air tersebut digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
Sebelum
meletakan sesaji tersebut di tempat-tempat yang dianggap memiliki hal mistik
oleh warga desa, dilakkukan tasyakuran / slametan terlebih dahulu di balai
desa, dengan harapan supaya satu tahun kedepan akan lebih baik dari tahun
sebelumnya.
Tradisi tersebut
dilaksanakan oleh warga desa secara rutin, setiap menyambut malam pergantian
tahun baru islam (malam 1 suro).
Ø Pengajian di masjid
Selain tradisi
meletakan sesaji di tempat-tempat tertentu, warga desa karangsari sendiri
memiliki kegiatan lain yaitu Pengajian yang dilaksanakan di Masjid Baitul
Khikmah. Pengajian dilaksanakan sehabis sholat isya berjamaah (ba’da isya),
lalu dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat suci al-quran, tahlilan, do’a akhir
tahun dan do’a awal tahun yang di lakukan bersama-sama di masjid tersebut. Pengajian
tersebut diimami oleh salah satu tokoh agama yang ada di desa karangsari
Hal tersebut
dilakukan dengan tujuan mengucap rasa syukur kepada Allah swt atas segala
kenikmatan yang telah diberikan 1 tahun lalu dan berdoa supaya 1 tahun kedepan
lebih baik dari tahun sebelummnya.
Tradisi tersebut
dilaksanakan oleh warga desa secara rutin, setiap menyambut malam pergantian
tahun baru islam (malam 1 suro).
Ø Pagelaran wayang
kulit (Ruwatan)
Pagelaran wayang
kulit yang dilaksanakan dilapangan dekat balaidesa karangsari, kegiatan
tersebut hanya dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. acara utamanya adalah
Ngruwat bumi yaitu pagelaran wayang kulit yang laksanakan selama sehari semalam
tepatnya dimalam pergantian tahun baru islam (malam 1 suro). Tujuan
dilaksanakanya Pagelaran wayang tersebut juga untuk menyambut tahun baru islam.
Karena pagelaran
wayang kulit tersebut hanya dilakukan setiap 5 tahun sekali, setiap ada acara
tersebut sudah pasti sangat ramai. dalam pagelaran tersebut terbuka untuk umum,
bukan hanya warga desa karangsari saja yang menikmati acara tersebut, semua
orang boleh menonton secara gratis. Dan bukan hanya para orang tua saja yang
menonton acara tersebut, namun dari mulai anak-anak, remaja maupun dewasa juga
menonton acara pagelaran wayang kulit tersebut. Dilain sisi, acara tersebut
juga bertujuan untuk mengenalkan dan mempopulerkan salah satu kesenian dan
kebudayaan jawa kepada para anak-anak yang ada di desa saya dan supaya kesenian
tersebut dilestarikan oleh para penerus bangsa. Khususnya untuk para anak-anak
yang menonton acara tersebut.
Hal tersebut dilakukan setiap 5 tahun sekali
yang merupakan wujud syukur terhadap tuhan yang maha esa atas segala ciptaanya.
Dan dilaksanakan bertujuan untuk tolak
bala, maksudnya untuk menolak hal-hal buruk yang terjadi dalam masyarakatnya.